Hallo, teman-teman!
Ternyata sudah 5 tahun aku "menghilang" ya sejak terakhir nulis di blog ini. Kangen bangeeet rasanya cerita tentang food and traveling lagi. Tapi, apa daya, pada 5 tahun itu juga, aku kehilangan ruh aku dalam menulis. Rasanya aku kehilangan diri aku sendiri. Aku sibuk bekerja sebagai content creator sampai aku lupa membuat konten sendiri. Rasanya sudah lelah duluan sama urusan eksternal.
Pada 5 tahun terakhir itu pula, aku sangat aware dengan masalah kesehatan mental aku. Dimulai dari tahun 2020 ketika aku merasakan ada yang salah dengan inner child aku. Mungkin dari situ juga perlahan aku sedikit tak berminat dengan hobi-hobiku di masa lalu. Lama-lama, ya menghilang. Blog terbengkalai, apalagi channel YouTube-ku yang sudah sedikit usang :(.
Bisa dibilang, "Aku kangen sosok Juwita yang dulu". Sosok yang sangat passionate dalam menulis minimal 1 bulan sekali, membaca 1 buku tiap 1 bulan, dan membuat vlog. Suliiiiit sekali untuk kembali merangkul aktivitas seruku yang dulu. Juwita yang sekarang tidak seaktif Juwita yang dulu. Jiwa aku juga sudah tak sama. Rasanya tidak ada motivasi kuat untuk aku kembali.
Apakah ini saatnya aku harus mencari aktivitas baru dan meninggalkan hobi-hobiku yang dulu? Belum ada jawaban juga apakah blogging dan vlogging masih aku cintai... Karena, untuk hidup pun aku sedang tidak termotivasi. Rasanya hilang tujuan.
Izinkan aku cerita tentang perjalanan mental health aku yang dari tahun ke tahun rasanya memburuk. Tahun 2022, pertama kalinya aku mengunjungi Psikolog terkait emosiku yang tidak stabil. Berlanjut ke tahun 2024 ketika aku sedang berproses cerai yang mengharuskanku bolak-balik ke Psikiater tiap minggunya. Iya, tentang perceraian ini juga yang ingin aku sampaikan kepada teman-teman.
Mungkin banyak yang kaget mendengar tentang perceraian aku ini. Mungkin juga ada yang sudah lama tau. Selama ini, hanya orang-orang terdekat aku saja yang tau dan aku memang tidak berniat memberi pengumuman ke teman-teman semua. Niatnya menyebar secara organik saja dengan maksud tidak menutup-nutupi. Tapi, hari ini dengan ditulisnya cerita perpisahan aku di blog, aku berharap ini bisa menjadi healing process buat aku. Aku ingin mental aku membaik dan ikhlas atas jalan hidup-Nya.
Tidak dipungkiri, proses cerai 1 tahun yang panjang selama 2024 sampai selesai, kehidupan pasca perceraian, drama pekerjaan di kantor yang selalu ada, ditambah beban menjadi single mom membuat mental aku drop. Mungkin ini semua akan sedikit ringan jika aku mempunyai support system dari orang terdekat. Tapi, kenyataannya, keluarga terdekat pun sudah menjadi trigger aku. Jadi, berdiri di kaki sendiri mengatasi masalah ini adalah sebuah keniscayaan.
Tahun 2026 ini, aku mencoba berobat ke Psikolog dan Psikiater lagi karena aku merasa ada trigger baru yang menyerang mental aku. Lelah, pasti. Bahkan aku hampir ingin menyerah saja karena kali ini aku sampai tidak termotivasi untuk bekerja dan melakukan hal apa pun. Sedih, sudah jelas. Memikirkan kapan penyakit mental aku ini sembuh semakin membuat pikiran tak karuan. Sampai detik ini saja aku clueless akan seperti apa masalah ini ke depannya.
Bersyukur, apa pun yang terjadi dengan perpisahan ini, aku dan ayah anakku tetap memegang komitmen dalam pengasuhan anak bersama. Walau sudah berpisah, kami akan tetap menjadi "orang tua yang utuh" untuk anak kami dan sayang kami untuk anak tidak akan berkurang sedikit pun selamanya. Harapan kami selalu, anak kami tidak pernah merasakan motherless atau fatherless akibat perpisahan ini.
Saatnya aku terus berjuang atas proses penyembuhanku dan dia dengan kehidupan juga pasangan barunya..
Aku tidak akan membagikan link tulisan ini di sosial media aku. Jadi, jika tulisan ini kebetulan mampir kepadamu, let me know ya! Mungkin bisa WhatsApp atau DM aku via Instagram. I would really appreciate it :) dan mohon doanya untuk kesembuhanku ya..
Terima kasih sudah mau membaca update sedikit tentang kehidupan aku. Semoga ke depannya aku dan anakku bisa hidup lebih baik, sehat fisik dan mental. Biarlah apa yang aku alami menjadi proses dalam memahami kehidupan bahwa tidak ada hidup yang sempurna.
With love, Juwita.
- February 09, 2026
- 2 Comments

